Selasa 13 Juni 2017,
08:30 WIB
Penyandang Tuna Daksa Keseharian Berjualan Buah
NiaDamayanti-LabFotografi
Penyandang Tuna Daksa Keseharian Berjualan Buah
NiaDamayanti-LabFotografi
Berjualan
menggunakan tongkat dan gerobak, Senin (12/6/2017). Niadmt
MUNJULNEWS- tuna daksa adalah orang yang mengalami kecacatan fisik, cacat
tubuh. Seperti yang dialami Suyadi(52) atau biasa di panggil Yadi. Lahir di
Solo, 3 April 1965. Menikah pada tahun 2004 dengan Painem(50).
Di tahun 2005 mereka pindah dari Solo ke
Jakarta. Menempati rumah kontrakan di jalan gang Buntu Munjul,Jakarta Timur. Dari
pernikahan mereka memiliki 2 anak, yang pertama bernama Ali sudah bersekolah
kelas 5 SD , yang kedua bernama Arasi baru 2 tahun.
Terlahir normal, ketika umur 3 tahun
mengalami sakit polio panas tinggi lalu disuntik malah jadi lumpuh kaki sebelah
kiri, “dulu masih belum ada pengobatan gratis belum ada BPJS jadi saya Cuma ke
puskesmas disuntik jadi injeksi lumpuh gak bisa jalan sampe sekarang ” katanya.
Meskipun kaki nya tidak sempurna namun
tekat dia untuk bekerja sangatlah kuat. Berawal pada tahun 2005 Yadi bekerja
sebagai kuli angkut beras di pasar,tukang cuci, tukang gosok. Apapun
pekerjaannya akan ia lakukan demi mendapatkan uang “semampu fisik saya, saya
anggap itu mampu saya akan jalani yang penting dapat uang”, ucapnya.
Pekerjaan itu dilakukan selama kurang lebih
2 tahun, setelah itu ia beralih profesi. Pada
tahun 2008 ia mulai berjualan jamu dan kopi setiap hari dengan
menggunakan gerobak dan tongkat kayu untuk membantu ia berjalan . Berjualan di
sekitaran jalan munjul dari pukul 10:00WIB sampai waktu yang tidak bisa
ditentukan, tergantung sehabisnya buah
yang dijual. Di bulan Ramadhan hanya berjualan buah-buahan seperti buah
Pepaya dan Melon.
Penghasilan yang didapat sehari-hari tidak
menentu “kadang ada angin segar, ada angin lesu”, ujarnya. Tetapi keuntungan
lebih terasa ketika bulan Ramadhan “namanya bulan penuh rahmat jualan apa saja
bisa laku. Jadi cepet balik modalnya”, katanya.
Istrinya pada saat ini hanya mengurus rumah
dan anak-anaknya, karena Yadi ingin istrinya fokus ke anak-anaknya. Jika
anaknya sudah besar ia baru mengijinkan istrinya untuk berjualan jamu untuk
membantu perekonomian mereka.
Menurut Yadi yang paling penting dalam
sehari-hari bisa mencari makan untuk keluarga, untuk kebutuhan yang lain di
nomer dua kan olehnya. Semangat dan gigih dalam bekerja dilakukan untuk
keluarga tercintanya demi memenuhi tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.
Baginya akan ada segala cara untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya “ tapi Alhamdulillah Allah Maha Kuasa apa pun kalau ada
niat insyaallah semua bisa” ucapnya yang begitu semangat.(ND)

No comments:
Post a Comment